Jumat, 23 Februari 2024

Konsep Pancasila Ditemukan Bung Karno saat Merenung di Bawah Pohon Sukun, Begini Sejarahnya

Murianews
Senin, 30 Mei 2022 20:37:28
Foto: Taman Renungan Bung Karno di Pulau Ende, NTT (Merdeka.com/Gebyar Adisukmo)
[caption id="attachment_292957" align="alignleft" width="1890"]Konsep Pancasila Ditemukan Bung Karno saat Merenung di Bawah Pohon Sukun, Begini Sejarahnya Foto: Taman Renungan Bung Karno di Pulau Ende, NTT (Merdeka.com/Gebyar Adisukmo)[/caption] MURIANEWS, Kudus – Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Hari Lahir Pancasila ditetapkan pada tanggal 1 Juni. Ada alasan kenapa dipilih tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Hal ini terkait dengan pidato yang dilakukan oleh Presiden pertama Indonesia Soekarno (Bung Karno) pada 1 Juni 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan). Dalam pidatonya, Bung Karno sempat menyampaikan gagasan Pancasila. Konsep lima sila itu bukan hadir secara tiba-tiba. Namun melalui proses panjang. Yakni sejak Sukarno diasingkan selama empat tahun oleh Belanda ke Pulau Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, terhitung mulai 14 Januari 1934. Baca juga: 1 Juni, Peringatan Hari Lahirnya Pancasila Di tempat pembuangan itu, Sukarno kerap melakukan perenungan di bawah pohon sukun depan rumahnya. Nah, hasil perenungan di bawah pohon itulah salah satunya melahirkan Pancasila. “Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku. merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila,” ujar Sukarno, dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adam “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, seperti dikutip dari beritajatim.com, Senin (30/5/2022). Bung Karno menilai, dirinya bukanlah menciptakan Pancasila. Namun hanya menggali lebih jauh ke dalam bumi Indonesia. Yakni tentang tradisi-tradisi yang ada di nusantara. Nah, dari penggalian itu, Sukarno menemukan lima mutiara indah yang dikenal dengan Pancasila. Di bagian lain, Sukarno menggambarkan tentang pohon sukun di Pulau Ende yang paling ia senangi. Tempat itu dijadikan Sukarno melakukan kontemplasi. Bahkan saat sakit pun Sukarno tetap mendatangi pohon tersebut. Ia duduk berjam-jam sembari melihat pemandangan laut. Sukarno memandang lautan dengan hempasan gelombangnya yang besar berirama memukul pantai. Pria yang kelak menjadi presiden pertama RI ini tak henti berpikir bagaimana laut tak bisa diam. Memang ada pasang surut, tapi gelombang itu tetap bergulung secara abadi. “Itu sama dengan revolusi kami. Revolusi kami tidak akan pernah berhenti. Revolusi kami, seperti juga lautan, adalah ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta,” kata Sukarno dalam buku tersebut. Selama pembuangan di Pulau Ende, Sukarno tidak sendiri. Pendiri PNI itu ditemani sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami. Satu-satunya barang berharga yang dibawa Sukarno adalah sekeranjang buku. Mereka tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende, pada 14 Januari 1934. Sukarno berkisah, rumah yang ia tempat selama di pembuangan cukup memperihatinkan. Rumah berukuran kecil itu tanpa listrik, tanpa air ledeng. Jika mandi, Sukarno harus membawa sabun ke Wona Wona, sebuah sungai yang mengalirkan air dingin dengan di tengah-tengahnya bungkahan batu. Sementara di sekeliling rumah hanya ada tanaman pisang, pohon-pohon kelapa dan jagung. Di seluruh Pulau Ende tak ada hiburan. Tak ada bioskop maupun perpustakaan. Untuk membunuh kebosanannya, sehari-hari Sukarno memilih berkebun dan membaca. Di tempat itu pula, Bung Karno kembali mengasah jiwa seninya. Di Pulau Ende, Sukarno benar-benar dilucuti daya hidupnya. “Di penjara Sukamiskin tubuhku dipenjara. Di Flores semangatku dipenjara. Di sini aku diasingkan dari manusia, dari orang-orang yang dapat memperdebatkan tugas hidupku,” ujar Sukarno. Tempat menemukan gagasan Pancasila itu sekarang dibuat sebagai Taman Renungan Bung Karno. Melansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, lokasinya terletak di Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, dengan koordinat 51 L 0350879, UTM 9022133, dan 9 mdpl. Berdasarkan usulan penetapan luas lahan taman renungan Bung Karno ialah 52 m x 52 m = 2.704 m2, yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Ende. Dengan batas-batas disebelah utara Taman Remaja, sebelah selatan lapangan Ende (alun-alun) yang sekarang disebut lapangan Pancasila. Ditaman renungan ini terdapat pohon sukun dan taman remaja dalam satu areal. Pohon Sukun adalah tempat Bung Karno merenung mengisi waktu luang semasa pengasingan dan beliau sangat menggemari tempat ini, yang terletak agak tinggi dan menghadap ke teluk sehingga pemandangan lepas ke laut. Di sinilah Bung Karno sering duduk termenung untuk memperoleh ilham dalam menggali butir-butir Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pohon Sukun yang tumbuh saat ini bukan pohon sukun yang asli karena Pohon Sukun yang asli sudah mati. Atas prakarsa pemerintah daerah TK II Ende ditanam pohon sukun yang baru untuk mengenang sejarah perjuangan Bung Karno di Ende. Pada bulan Mei 1954 Bung Karno pernah menyampaikan pidatonya dihadapan masyarakat Ende, di lapangan Pancasila (alun-alun) sekarang, disebelah selatan Taman Renungan (pohon sukun). Dalam pidatonya Bung Karno menyatakan bahwa beliau merenungkan rumusan Pancasila di bawah pohon sukun. Berkenaan dengan hal tersebut masyarakat Ende menganggap Ende adalah tempat menggali ilham kelima butir-butir Pancasila sebagai dasar negara. Di bumi Flores, tepatnya di Ende, Bung Karno menemukan penjelmaan kongkrit dari idenya tentang dasar dan tujuan yang berfungsi sebagai pemersatu Bangsa Indonesia yang majemuk.     Penulis: Dani Agus Editor: Dani Agus Sumber: beritajatim.com, kebudayaan.kemdikbud.go.id

Baca Juga

Komentar