Kamis, 22 Februari 2024

Ini Ketentuan Salat bagi Relawan Bencana yang Penting Diketahui

Murianews
Jumat, 28 Oktober 2022 20:59:00
Foto: Ilustrasi relawan sedang bertugas di daerah bencana (bnpb.go.id)
[caption id="attachment_328519" align="alignleft" width="1890"]Ini Ketentuan Salat bagi Relawan Bencana yang Penting Diketahui Foto: Ilustrasi relawan sedang bertugas di daerah bencana (bnpb.go.id)[/caption] MURIANEWS, Kudus – Salat merupakan rukun Islam yang kedua, setelah syahadat. Kewajiban salat berlaku bagi setiap mukallaf (manusia yang akil dan baligh) semasa hidup. Melaksanakan salat wajib dilaksanakan dalam kondisi apapun. Bahkan, dalam situasi sakit sekalipun kewajiban salat tetap berlaku meski pelaksanaannya bisa jadi berbeda dengan salat orang sehat. Lantas  bagaimana ketentuan salat bagi para relawan bencana? Pasalnya, mereka berada di medan yang berat dan berjuang untuk menyelamatkan para korban bencana. Baca juga: Ini Cara Bersuci saat Banjir dan Mengalami Kesulitan Air Bersih Melansir dari NU Online Jatim, Jumat (28/10/2022), dalam situasi dan keadaan tertentu, mukallaf tetap harus melakukan salat kecuali pada saat menstruasi atau nifas. Perempuan yang sedang menstruasi dan nifas diberi keringanan untuk tidak melakukan salat dan tidak mengqadhanya sebagaimana menurut mazhab Syafi’i. Adapun dalam situasi uzur atau bahkan darurat, seseorang hanya diberi keringanan untuk membatalkan salat atau menunda pelaksanaan salat dari waktu yang semestinya. Hal tersebut sebagaimana keterangan berikut ini:

 فَتُقْطَعُ الصَّلاَةُ لِقَتْل حَيَّةٍ وَنَحْوِهَا لِلأَمْرِ بِقَتْلِهَا، وَخَوْفِ ضَيَاعِ مَالٍ لَهُ قِيمَةٌ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ، وَلإِغَاثَةِ مَلْهُوفٍ

Artinya: ”Salat boleh dibatalkan karena ingin membunuh ular atau sejenisnya yang diperintahkan dalam syariat untuk dibunuh, karena khawatir kehilangan harta benda berharga dan harta lainnya, karena menyelamatkan orang yang minta tolong. (Lihat: Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz XXXIV, halaman: 51). Bagaimana dengan evakuasi harta benda korban bencana? Apakah kita tetap boleh menunda pelaksanaan salat dari waktu yang semestinya? Langkah pembatalan atau penundaan salat dapat diambil ketika seseorang melakukan evakuasi terdapat harta benda atau aset milik korban yang perlu diselamatkan saat terjadi bencana.

 كما تقطع الصلاة خوف اندلاع النار واحتراق المتاع ومهاجمة الذئب الغنم؛ لما في ذلك من إحياء النفس أوالمال، وإمكان تدارك الصلاة بعد قطعها

Artinya: ”Salat juga dapat dibatalkan ketika khawatir pada jilatan api, terbakarnya harta benda tertentu, atau terkaman serigala kepada ternak kambing karena pembatalan salat karena untuk menolongnya itu merupakan bagian dari penyelamatan jiwa atau harta benda dan memungkinkan mengulang salat tersebut setelah pembatalan.” (Lihat: Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H], juz II, halaman: 37). Para relawan bencana disarankan tetap menjaga salat pada waktunya sekiranya upaya evakuasi atas jiwa dan harta benda korban bencana masih bersifat longgar sehingga dapat memberikan kesempatan bagi relawan untuk melakukan salat tanpa mengabaikan tugasnya dalam mengevakuasi. Adapun ketika situasi darurat di mana korban membutuhkan pertolongan jiwa dan harta benda, sementara jumlah relawan begitu terbatas bahkan minim, relawan bencana dapat mengambil langkah penundaan salat dari waktu yang semestinya. Namun, selagi masih dapat melakukan salat secara bergantian, disarankan agar langkah penudaan salat dari waktu yang semestinya merupakan langkah terakhir yang bersifat darurat.   Penulis: Dani Agus Editor: Dani Agus Sumber: jatim.nu.or.id

Baca Juga

Komentar