Kamis, 22 Februari 2024

Ketahui, Ini Perubahan Perilaku Anak yang Bisa Terjadi akibat Perceraian Orang Tua

Murianews
Sabtu, 4 Maret 2023 16:02:27
Foto: Ilustrasi (freepik.com)
Murianews, Kudus – Setiap pasangan suami istri pasti mengharapkan perkawinannya bisa berjalan lancar hingga maut memisahkan mereka. Namun, harapan ini terkadang tidak selalu terwujud. Adakalanya, seiring perjalanan waktu, perkawinan ini berakhir dengan perpisahan atau perceraian. Ada banyak hal yang menyebabkan pasangan suami istri terpaksa harus bercerai. Pada umumnya, perceraian tentunya menjadi salah satu hal yang sangat dihindari oleh semua orang. Selain dapat menyebabkan rasa stres, berpisah dengan orang tersayang bisa memicu seseorang mengalami trauma dan berdampak pada anak. Baca juga: Ini Tips agar Rumah Tangga Tetap Romantis setelah Lama Menikah, Apa Saja? Hal ini perlu dikatahui orang tua sebelum memutuskan untuk mengakhiri hubungan rumah tangga. Lantas apa saja dampak perceraian ini terhadap anak? Melansir dari Hellosehat, Sabtu (4/3/2023), perceraian umumnya merupakan suatu hal yang sangat menyedihkan bagi setiap pasangan yang harus mengalaminya. Ini tentu tidak mudah dijalani, terlebih jika Anda dan pasangan sudah memiliki anak. Sayangnya, selain bisa berdampak pada diri Anda sendiri dan pasangan, efek perceraian juga bisa dirasakan oleh anak Anda. Anak dengan orangtua yang bercerai sering disebut dengan anak broken home. Jika perceraian orangtua benar terjadi, berikut beberapa dampak terhadap anak. Prestasi akademik menurun Perceraian orang tua juga bisa berdampak pada nilai-nilai anak secara akademis di sekolah. Bahkan, penurunan nilai anak di sekolah bisa terjadi cukup jauh dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Masalah ini umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan, tetapi biasanya paling terlihat pada anak berusia 13-18 tahun. Ada beberapa hal yang bisa menjadi pemicu, di antaranya anak merasa ditelantarkan, depresi, atau terus-menerus memikirkan masalah yang sedang dialami orangtua. Jika nilai anak terus memburuk, hal ini bisa memengaruhi membuat anak kesulitan di kemudian hari atau tidak tertarik untuk belajar dan mendapat pendidikan. Merasa marah Rasa marah bisa timbul sebagai dampak terhadap anak saat orangtuanya harus bercerai. Perasaan ini bisa dialami oleh anak pada usia berapa pun. Namun umumnya, rasa marah banyak dirasakan oleh anak-anak usia sekolah dan remaja. Ini bisa dikarenakan anak merasa dunianya akan berubah dan berbeda dari sebelumnya yang ia ketahui. Terlebih, pemahaman anak-anak masih sangat terbatas untuk bisa mengerti kondisi yang sedang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Perasaan marah bisa timbul akibat merasa ditelantarkan atau kehilangan kendali. Bahkan terkadang, anak juga bisa merasa marah terhadap dirinya sendiri karena merasa sebagai penyebab perceraian orangtua. Menarik diri dari lingkungan sosial Anak-anak yang sebelumnya suka bersosialisasi dengan orang lain bisa secara tiba-tiba menjadi pendiam, pemalu, atau bahkan mengalami kecemasan akibat perceraian orangtua. Sebagai dampak perceraian terhadap anak, ia bisa merasa kewalahan dengan pikiran dan perasaan yang mungkin timbul setelah orangtua harus bercerai. Akibatnya, anak tidak merasa tertarik atau bahkan takut melakukan kontak fisik dengan orang lain. Selain itu, anak juga bisa menarik diri karena memiliki rasa percaya diri yang rendah. Rasa cemas akibat perpisahan Anak-anak yang berusia lebih muda dapat merasa cemas akibat harus mengalami perpisahan. Kecemasan tersebut bisa ditandai dengan menangis terus-menerus dan sifat manja. Kondisi ini bisa dianggap sebagai gangguan tumbuh kembang yang sering terjadi saat anak berusia 6-9 tahun. Anak mungkin juga akan menanyakan kemana ayah atau ibunya saat Anda sudah bercerai dan tidak tinggal bersama. Penurunan kemampuan anak Dampak lainnya dari perceraian terhadap anak, yakni tanpa disadari anak-anak berusia 18 bulan hingga 6 tahun bisa kembali menjadi manja, mengompol, mengisap jempol, maupun marah (tantrum). Penurunan kemampuan pada anak bisa menjadi tanda ia mengalami stres akibat perceraian. Perubahan pola makan dan tidur Belum dapat diketahu secara pasti apakah perceraian bisa menyebabkan penurunan berat badan pada anak. Namun, beberapa anak bisa mengalami berat badan berlebih setelah orangtua bercerai. Peningkatan berat badan ini biasanya dialami jika perceraian terjadi sebelum anak berusia 6 tahun. Anak-anak dengan orangtua yang bercerai juga cenderung mengalami gangguan tidur. Ini juga bisa memicu terjadinya kenaikan berat badan. Anak mungkin juga akan merasa cemas sebelum tidur karena takut mengalami mimpi buruk atau halusinasi. Memihak salah satu orangtua Berdasarkan penelitian dalam jurnal Clinical Review, anak akan mengalami disonansi kognitif dan konflik kesetiaan sebagai dampak perceraian terhadap anak. Ini bisa terjadi karena anak merasa tidak nyaman berada di antara kedua orangtua tanpa harus memihak. Terlebih jika masing-masing orangtua menginginkan hak asuh anak. Padahal, memaksakan anak harus berlaku adil tanpa memihak di antara kedua orangtua bisa berbahaya bagi anak. Anak juga bisa merasa tidak nyaman yang ditandai dengan sakit perut atau sakit kepala. Seiring dengan pertambahan usia, anak mungkin akan lebih berpihak pada salah satu orangtua. Hal ini terutama terjadi jika pada akhirnya anak tidak menjaga komunikasi dengan orangtua. Depresi Pada umumnya, anak juga akan merasa sedih dan kecewa saat kedua orangtuanya harus mengalami perceraian. Namun, beberapa penelitian menunjukan bahwa salah satu masalah anak broken home yaitu juga berisiko lebih tinggi mengalami depresi. Sebagian anak bahkan juga berisiko lebih tinggi melakukan ancaman atau percobaan bunuh diri. Meski dapat dialami oleh anak-anak di usia berapa pun, depresi diketahui lebih rentan terjadi pada anak berusia 11 tahun ke atas. Dilansir dari American Academy of Pediatrics, kondisi ini juga lebih sering dialami oleh anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Gangguan perilaku Anak-anak dengan orang tua yang bercerai juga lebih rentan memiliki kenakalan atau gangguan perilaku, seperti penyalahgunaan alkohol dan NAPZA, perilaku agresif, dan kegiatan seksual terlalu dini. Beberapa penelitian menunjukan bahwa remaja perempuan yang tidak memiliki sosok ayah di rumah cenderung melakukan hubungan seksual di usia dini. Kesulitan menjalin hubungan Risiko perceraian diketahui lebih tinggi dialami oleh anak-anak dengan orangtua yang bercerai. Ini diduga karena anggapan anak terhadap hubungan komitmen jangka panjang bisa berubah setelah melihat orangtua bercerai. Anak menjadi percaya bahwa keluarga bisa terbentuk tanpa adanya pernikahan.     Penulis: Dani Agus Editor: Dani Agus Sumber: hellosehat.com

Baca Juga

Komentar