Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Buleleng – Sukmawati Soekarnoputri, putri Presiden Sukarno pindah agama dari Islam ke Hindu. Untuk itu dia harus menjalani upacara Sudhi Wadani.

Pada dasarnya, upacara Sudhi Wadani adalah pembersihan diri sebelum seseorang memeluk agama Hindu. Upacara ini sudah diakui di Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu pada 18-20 Februari 1981.

Secara etimologi, Sudhi Wadani berasal dari bahasa Sansekerta yakni suddh yang dilafalkan menjadi sudhi. Kata itu memiliki arti bersih, suci, disucikan atau penyucian.

Sedangkan, Wadani mulanya dari kata vada yang berarti pernyataan, pembicaraan yang dilakukan dengan baik dan pantas. Dalam konsep lain, artinya upacara pelantikan untuk menganut ajara Wedha.

Sebagaimana diketahui Wedha atau Weda adalah kitab suci agama Hindu. Jadi Sudhi Wadani dapat dimaknai sebagai pernyataan untuk menjadi penganut ajaran suci Wedha.

Baca juga: Ini Alasan Sukmawati Pindah Agama Hindu

Melansir dari Detikcom, orang yang akan menjalani upacara Sudhi Wadani harus mempersiapkan berbagai hal. Selain kemantapan jiwa, orang itu harus siap dengan syarat administrative.

Untuk syarat administratif, seseorang harus membuat surat pernyataan keputusan menjadi umat Hindu tanpa paksaan dan tekanan. Kemudian membuat surat permohonan kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), melampirkan pas foto dan KTP, dan menghadirkan saksi-saksi.

Kemudian, pihak PHDI akan memilih rohaniawan yang dalam hal ini adalah pinandita untuk memimpin upacara, mempersiapkan dan memilih tempat pelaksanaan upacara. Bila ditilik dari ritual yang dilaksanakan, secara garis besar upacara ini fokus pada ritual pembersihan yang dilaksanakan dengan sarana byakala dan prayascita lalu ayaban.
Dalam pelaksanaan byakala, seseorang akan memasuki halaman tempat suci dalam hal ini pura dan diajak berdoa. Kemudian untuk prayascita, mereka akan dibersihkan dan disucikan dari kotoran. Lalu untuk ayaban, orang tersebut akan diajak berterima kasih pada Hyang Widhi (sebutan Tuhan dalam agama Hindu).Bila sudah, pemimpin upacara akan membacakan pernyataan yang sudah ditulis orang yang melakukan Sudhi Wadani, sembari ikut ditirukan. Kemudian dilakukan penandatanganan yang diperhatikan para saksi.Setelah itu, dilakukan sembahyang bersama yang dipandu pemimpin upacara. Sembahyang ini menyembah tanpa sarana, dengan bunga, dengan kwangen, dan menyembah tanpa sarana lagi.Sembahyang dilanjutkan dengan memohon air suci (tirtha). Air suci ini dipercikkan ke kepala, diminum, dan diusapkan ke wajah.Rangkaian upacara dilanjutkan Dharma Wacana yang diberikan PHDI. Dharma Wacana ini diberikan sebagai bekal kepada umat Hindu baru di mana di sana terdapat ajaran agama Hindu.Akhirnya, Sudhi Wadani ditutup dengan ucapan selamat dan paramashanti yaitu ucapan salam yang mengandung makna kedamaian sempurna. Penulis: Zulkifli FahmiEditor: Zulkifli FahmiSumber: Detikcom

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler