Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
MURIANEWS, Kudus - Kue putu, atau orang Jawa umum menyebut Puthu Bumbung adalah jajan tradisional yang terkenal di Indonesia. Kue berbahan tepung beras dengan gula merah di dalamnya yang lumer membuat kue ini banyak digandrungi masyarakat.
Adonan tepung beras biasanya dimasukkan ke dalam tabung bambu dan kemudian dikukus. Kudapan ini biasa dihidangkan bersama parutan kelapa serta butiran kasar tepung beras dan lumrahnya berwarna putih atau hijau.
Namun kue ini ternyata awalnya bukan berasal dari Indonesia. Lalu dari mana?
Selain terkenal di Jawa, kue putu ternyata juga terkenal di Bugis. Bedanya, putu dari Bugis berbahan dasar ketan hitam tanpa gula merah yang menghasilkan warna hitam.
Umumnya Putu Bugis disantap dengan taburan parutan kelapa serta sambal. Putu Bugis biasanya hanya dijual pagi hari sebagai pengganti sarapan.
Di Jawa, jajan tradisional yang mudah dikenali hanya dengan mendengar bunyi khas penjualnya ini ternyata bukan dari Indonesia.
Dikutip dari Republika.co.id, Mochammad Antik, penggiat sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM), menjelaskan kudapan ini bisa ditemukan di China Silk Museum.
“Kue khas Jawa ini bisa ditemukan di China Silk Museum. Jadi sebenarnya sudah ada 1.200 tahun silam, di masa Dinasti Ming,” jelasnya.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News




Kue putu. (