Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Jelang peringatan Hari Ibu yang diperingati 22 Desember, ada baiknya kita mengenal sejarahnya. Bagaimana 22 Desember didapuk sebagai Hari Ibu, mari simak ulasan berikut ini.

Ada banyak tradisi dalam merayakan Hari Ibu di dunia, seperti memberikan ucapan sayang, memberikan bunga, hingga mentraktir ibu.

Menurut Bobo.grid.id, secara Internasional, sebenarnya Hari Ibu diperingati setiap Minggu kedua pada Mei.

Mengutip Wikipedia, 22 Desember diresmikan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno lewat Keputusan Republik Indonesia No 316 tahun 1959, 16 Desember 1959 silam. Keputusan itu dikeluarkan pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia.

Alasan pemilihan tanggal tersebut adalah untuk merayakan semangat wanita Indonesia serta meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Hari Ibu, Haryanto-Arifin Dapat Dukungan Penuh dari Ibu-ibu Muslimat NU se-Kabupaten Pati

Peringatan pertama Hari Ibu bertepatan dengan ulang tahun pertama Kongres Perempuan Indonesia yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Acara itu berlangsung di gedung Dalem Jayadipura yang saat ini digunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta.
Kongres tersebut diikuti 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Organisasi wanita di Indonesia telah ada sejak 1912 yang terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan Indonesia pada abad 19 seperti Cut Nyak Meutia, Kartini, Dewi Sartika dan lainnya. Adanya kongres itu ditujukan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahanSelain Hari Ibu, Indonesia juga merayakan Hari Kartini setiap 21 April yang diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia 1938. Hal ini ditujukan untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini dalam mengupayakan hak-hak emansipasi perempuan.Namun seiring berjalannya waktu, makna Hari Ibu telah mengalami banyak perubahan. Saat ini Hari Ibu telah melekat sebagai hari untuk menyatakan rasa cinta terhadap ibu.Selain itu, Hari Ibu turut diwarnai dengan beragam acara dan kompetisi layaknya lomba memasak dan memakai kebaya. Penulis: Loeby Galih WitantraEditor: Zulkifli FahmiSumber: Wikipedia, Bobo.grid

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler