MURIANEWS, Kudus – Menjaga ban agar awet sangat penting untuk diperhatikan. Sebab itu menyangkut keselamatan berkendara. Pembalap Nasional Rifat Sungkar membagikan tipsnya.
Saat membagikan pengalamannya secara virtual, brand ambassador Mitsubishi Indonesia itu mengatakan karet pada mobil merupakan unsur paling mudah untuk diidentifikasi.
“Untuk jelasnya kita masuk ke teknik memahami soal rubber. Pertama, soal ban yang paling bisa diidentifikasi dengan mudah. Ban yang kedaluwarsa tidak selamanya buruk,” jelasnya seperti dikutip dari
Kompas.com, Kamis (23/12/2021).
Ia menyebut ban bisa aus saat telah melewati batas waktu yang ditentukan. Untuk mengetahuinya, upayakan komponen pembukus roda sesuai dengan tahun rakitan mobil.
Contohnya saat mobil dirakit pada 2020, ban yang terpasang harus memiliki informasi yang tertulis angka 20. Umumnya ada dua digit di belakang penomoran ban.
Ban dapat dilihat dari dekat apakah karetnya masih agak lunak atau sudah keras. Ban dengan karet yang mengeras akan menyebabkan grip yang kurang baik.
Untuk mempertahankan kondisi ban, Rifat menyarankan untuk memerhatikan tekanan angin pada ban.
“Untuk mepertahankan kondisi ban, perhatian tekanan angin. Harus di-spooring, kalau tidak di-spooring tingkat keausan akan berbeda,” terang Rifat pebalap asal Indonesia ini.
Baca juga: Waspada Aquaplaning saat Hujan, Apa Itu?Selanjutnya, terdapat dua jenis utama telapak ban, yaitu yakni symmetrical dan asymmetrical atau directional. Umumnya agen pemegang merk (APM) mobil menggunakan symmetrical yang universal dengan alasan saat memasangnya dapat digunakan segala arah dan lebih baik untuk konsumen.Untuk ban telapak directional biasanya dilengkapi petunjuk arah ban. Hal ini dikarenakan ban harus sesuai arah putaran roda saat memasangnya, sementara saat salah arah saat memasangnya daya cengkeramnya tidak akan maksimal.Yang terakhir, Rifat juga mengingatkan untuk rutin merawat ban cadangan dengan tekanan angin 35-40. Walau tidak sering digunakan, tekanan udara dalam ban bisa turun. Penulis: Loeby Galih WitantraEditor: Zulkifli FahmiSumber:
Kompas.com
[caption id="attachment_260305" align="alignleft" width="1280"]

Ilustrasi Ban Mobil (dok. Mitsubishi-motors.co.id)[/caption]
MURIANEWS, Kudus – Menjaga ban agar awet sangat penting untuk diperhatikan. Sebab itu menyangkut keselamatan berkendara. Pembalap Nasional Rifat Sungkar membagikan tipsnya.
Saat membagikan pengalamannya secara virtual, brand ambassador Mitsubishi Indonesia itu mengatakan karet pada mobil merupakan unsur paling mudah untuk diidentifikasi.
“Untuk jelasnya kita masuk ke teknik memahami soal rubber. Pertama, soal ban yang paling bisa diidentifikasi dengan mudah. Ban yang kedaluwarsa tidak selamanya buruk,” jelasnya seperti dikutip dari
Kompas.com, Kamis (23/12/2021).
Ia menyebut ban bisa aus saat telah melewati batas waktu yang ditentukan. Untuk mengetahuinya, upayakan komponen pembukus roda sesuai dengan tahun rakitan mobil.
Contohnya saat mobil dirakit pada 2020, ban yang terpasang harus memiliki informasi yang tertulis angka 20. Umumnya ada dua digit di belakang penomoran ban.
Ban dapat dilihat dari dekat apakah karetnya masih agak lunak atau sudah keras. Ban dengan karet yang mengeras akan menyebabkan grip yang kurang baik.
Untuk mempertahankan kondisi ban, Rifat menyarankan untuk memerhatikan tekanan angin pada ban.
“Untuk mepertahankan kondisi ban, perhatian tekanan angin. Harus di-spooring, kalau tidak di-spooring tingkat keausan akan berbeda,” terang Rifat pebalap asal Indonesia ini.
Baca juga: Waspada Aquaplaning saat Hujan, Apa Itu?
Selanjutnya, terdapat dua jenis utama telapak ban, yaitu yakni symmetrical dan asymmetrical atau directional. Umumnya agen pemegang merk (APM) mobil menggunakan symmetrical yang universal dengan alasan saat memasangnya dapat digunakan segala arah dan lebih baik untuk konsumen.
Untuk ban telapak directional biasanya dilengkapi petunjuk arah ban. Hal ini dikarenakan ban harus sesuai arah putaran roda saat memasangnya, sementara saat salah arah saat memasangnya daya cengkeramnya tidak akan maksimal.
Yang terakhir, Rifat juga mengingatkan untuk rutin merawat ban cadangan dengan tekanan angin 35-40. Walau tidak sering digunakan, tekanan udara dalam ban bisa turun.
Penulis: Loeby Galih Witantra
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber:
Kompas.com