MURIANEWS, Kudus- Kanker merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia. Kebanyakan, penyakit ini baru terdeteksi dan diobati setelah mencapai stadium lanjut karena kanker ini biasanya tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya..
Sejauh ini, ada banyak jenis kanker yang sudah terdeteksi. Setidaknya ada lima jenis penyakit ini yang terbanyak diidap masyarakat di dunia.
Baca juga: Kenali Ciri Kanker Tenggorokan Stadium Awal serta Cara MengobatiDilansir dari
solopos.com, berdasaran riset Global Observatory Cancer pada 2020, ada lima kanker terbanyak diidap masyarakat di dunia. Apa sajakah?
Di urutan pertama adalah kanker payudara. Kanker ini memiliki jumlah kasus baru (16,6 persen), diikuti kanker serviks (9,2 persen), kanker paru (8,8 persen), kanker colorectum (8,6 persen), dan kanker liver (5,4 persen).
Plt. Direktur P2PTM Kebijakan Operasional Penanggulangan Kanker di Indonesia Elvieda Sariwati menilai, jumlah kasus baru pada penyakit kanker di Indonesia cukup mengkhawatirkan.
“Secara kalau kita lihat populasi kita itu ada 273.523.621 penduduk maka, jumlah kasus baru itu ada 396.915 atau 5,4 persen. Jumlah kematiannya sekitar 234.511 kasus,” kata Elvieda dalam Temu Media Hari Kanker Sedunia Tahun 2022, seperti dikutip dari Bisnis.com pada Jumat (4/2/2022).
Dari semua jumlah kasus baru tersebut, Elvieda mengungkapkan, 70 persen sudah dideteksi pada tahap lanjut. Menurutnya, apabila penyakit tersebut dideteksi lebih awal, bisa jadi tingkat kematiannya akan lebih menurun.
Dia menuturkan, poin penting untuk mengurangi jumpah pengidap kanker, yakni bagaimana kita mengajak masyarakat untuk melakukan deteksi dini, terutama kanker payudara dan kanker serviks.”Karena penyakit kanker payudara dan kanker serviks memiliki jumlah kasus baru yang paling banyak,” imbuhnya.Kementerian Kesehatan telah membuat strategi untuk menangani kedua kanker tersebut. Untuk kanker payudara, Elvieda menjelaskan, ada tiga pilar yang digunakan sebagai strategi. Yakni, promosi kesehatan, deteksi dini dan tata laksana kasus.Untuk promosi kesehatan, dia berharap bahwa 80 persen perempuan usia 30-50 tahun dapat dideteksi dini kanker payudara di tahun 2024. ”Sebanyak 40 persen kasus diagnosis pada stage I atau II dan kita harapkan 90 hari itu paling lambat untuk mendapatkan pengobatan setelah didiagnosis,” ujarnya.Kemudian, untuk kanker serviks, strategi yang digunakan kurang lebih sama dengan kanker payudara, namun ada satu poin tambahan yang digunakan untuk mencegah kanker serviks. Yakni dengan imunisasi HPV (Human Papilloma Virus). “Di antara banyak kanker, baru satu kanker ini yang kita punya cara pencegahan, yaitu melalui imunisasi,” ujar Elvieda. Penulis: Dani AgusEditor: Dani AgusSumber:
solopos.com
[caption id="attachment_270488" align="alignleft" width="1890"]

Ilustrasi (pixabay.com)[/caption]
MURIANEWS, Kudus- Kanker merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia. Kebanyakan, penyakit ini baru terdeteksi dan diobati setelah mencapai stadium lanjut karena kanker ini biasanya tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya..
Sejauh ini, ada banyak jenis kanker yang sudah terdeteksi. Setidaknya ada lima jenis penyakit ini yang terbanyak diidap masyarakat di dunia.
Baca juga: Kenali Ciri Kanker Tenggorokan Stadium Awal serta Cara Mengobati
Dilansir dari
solopos.com, berdasaran riset Global Observatory Cancer pada 2020, ada lima kanker terbanyak diidap masyarakat di dunia. Apa sajakah?
Di urutan pertama adalah kanker payudara. Kanker ini memiliki jumlah kasus baru (16,6 persen), diikuti kanker serviks (9,2 persen), kanker paru (8,8 persen), kanker colorectum (8,6 persen), dan kanker liver (5,4 persen).
Plt. Direktur P2PTM Kebijakan Operasional Penanggulangan Kanker di Indonesia Elvieda Sariwati menilai, jumlah kasus baru pada penyakit kanker di Indonesia cukup mengkhawatirkan.
“Secara kalau kita lihat populasi kita itu ada 273.523.621 penduduk maka, jumlah kasus baru itu ada 396.915 atau 5,4 persen. Jumlah kematiannya sekitar 234.511 kasus,” kata Elvieda dalam Temu Media Hari Kanker Sedunia Tahun 2022, seperti dikutip dari Bisnis.com pada Jumat (4/2/2022).
Dari semua jumlah kasus baru tersebut, Elvieda mengungkapkan, 70 persen sudah dideteksi pada tahap lanjut. Menurutnya, apabila penyakit tersebut dideteksi lebih awal, bisa jadi tingkat kematiannya akan lebih menurun.
Dia menuturkan, poin penting untuk mengurangi jumpah pengidap kanker, yakni bagaimana kita mengajak masyarakat untuk melakukan deteksi dini, terutama kanker payudara dan kanker serviks.
”Karena penyakit kanker payudara dan kanker serviks memiliki jumlah kasus baru yang paling banyak,” imbuhnya.
Kementerian Kesehatan telah membuat strategi untuk menangani kedua kanker tersebut. Untuk kanker payudara, Elvieda menjelaskan, ada tiga pilar yang digunakan sebagai strategi. Yakni, promosi kesehatan, deteksi dini dan tata laksana kasus.
Untuk promosi kesehatan, dia berharap bahwa 80 persen perempuan usia 30-50 tahun dapat dideteksi dini kanker payudara di tahun 2024. ”Sebanyak 40 persen kasus diagnosis pada stage I atau II dan kita harapkan 90 hari itu paling lambat untuk mendapatkan pengobatan setelah didiagnosis,” ujarnya.
Kemudian, untuk kanker serviks, strategi yang digunakan kurang lebih sama dengan kanker payudara, namun ada satu poin tambahan yang digunakan untuk mencegah kanker serviks. Yakni dengan imunisasi HPV (Human Papilloma Virus). “Di antara banyak kanker, baru satu kanker ini yang kita punya cara pencegahan, yaitu melalui imunisasi,” ujar Elvieda.
Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber:
solopos.com