Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus- Kue iwak adalah salah satu kuliner khas Ramadan dari Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Saat bulan Ramadan, penjual kue iwak ini mudah ditemukan di berbagai tempat.

Di antaranya adalah di Alun-alun Sidayu dan di halaman depan Masjid Kanjeng Sepuh. Kue iwak biasa dijajakan selepas Asar hingga menjelang Isak.

Melansir dari NU Online Jatim, sesuai namanya, kue iwak adalah jajanan yang memasukkan unsur ikan sebagai bahannya. Biasanya jenis udang. Bahan-bahannya juga simpel. Yaitu tepung beras, kelapa atau santan, dan udang.

Baca juga: Es Ta’al, Kuliner Khas Sumenep yang Jadi Incaran saat Berbuka Puasa

Cara memasaknya juga mudah. Pertama, santan dipanaskan setelah itu tepung beras dimasukkan ke dalam cairan santan, lalu diaduk sampai rata. Begitu masak, adonan santan dan tepung tersebut lantas dikukus sekitar 30 menit.

Setelah selesai dikukus, langkah selanjutnya ialah menyiramkan santan kental di atas adonan. Lima menit kemudian baru udang goreng yang diiris-iris kecil macam abon ditaburkan di atas kue tersebut. Selesai, kue iwak siap dinikmati.

Warga Sidayu Miftahurrahman mengatakan, kue iwak adalah jajanan khas Gresik yang rasanya gurih dan sudah mentradisi sejak dulu. Biasanya, di Sidayu kue iwak biasa disajikan saat buka puasa Ramadan.
"Selain bonggolan dan krupuk ikan, kue iwak ini yang menjadi ikon Sidayu," kata Miftah.Anggota Satuan Koordinasi Rayon Banser Sidayu itu menuturkan, jajanan seperti itu merupakan bagian dari citra daerah. Untuk itu, ia berharap pemerintah dan masyarakat lokal sama-sama menjaga kualitas dan melindungi.“Alhamdulillah semoga ini bisa dipertahankan menjadi ikon Sidayu," ujar Miftah.  Penulis: Dani AgusEditor: Dani AgusSumber: jatim.nu.or.id

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler