Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Tak heran jika selama ini, banyak anak-anak yang sudah disunat. Terutama anak di Indonesia yang banyak melakukan sunat di usia balita hingga SD.

Namu, ada juga orang yang baru disunat saat sudah usia dewasa dengan berbagai alasan. Misalnya, ada kendala kesehatan, merasa takut hingga terkait dengan keyakinan.

Baca juga: Mengenal Metode Sunat Cincin, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Lantas berapa usia ideal untuk melakukan sunat? Apakah ada risikonya jika melakukan sunat di usia dewasa?

Melansir dari Halodoc, Sabtu (17/12/2022), Ketua Umum Asosiasi Khitan Indonesia atau ASDOKI menyebutkan, standar usia ideal laki-laki melakukan sunat mengalami perubahan seiring zaman yang semakin berkembang.

Sekarang ini, laki-laki sudah bisa sunat sejak usia 7 hari setelah lahir sampai sebaiknya 12 tahun. Sebelumnya, usia ideal khitan antara kelas 3 hingga kelas 6 SD. Tentu ini ada alasannya.

Bayi yang berusia 7 hari termasuk ideal karena sel pada tubuhnya akan lebih cepat melakukan regenerasi. Tak hanya itu, sunat pada usia dewasa bisa jadi lebih sulit karena kondisi paparan stigma sunat adalah prosedur yang menyakitkan. Alhasil, orang tua perlu menyiapkan mental anak lebih dulu.

Risiko Sunat Usia Dewasa

Sebenarnya, sunat saat usia dewasa tidak menjadi masalah, meski memang lebih baik sunat ketika usia masih bayi dan balita. Sebab, sunat usia dewasa bisa menjadi lebih rumit karena berbagai kondisi. Contohnya:

1. Kulit kepala atau kulup penis pada laki-laki berusia remaja dan pria cenderung lebih alot.

2. Penis laki-laki remaja dan dewasa juga lebih rentan ereksi sehingga eksekusi sunat menjadi lebih sulit.

3. Risiko terjadinya infeksi dan perdarahan setelah sunat, termasuk kondisi penggumpalan darah pada batang penis.

4. Sayatan lebih mudah terlepas, meski ini terbilang jarang terjadi.

5. Stenosis meatal, kondisi ketika terjadi penyempitan pada lubang kencing.
6. Cedera pada penis atau kelenjar dan uretra.7. Penoscrotal webbing, kondisi menyatunya kulit penis dan skrotum. Kondisi ini bisa terjadi sejak lahir atau efek samping dari sunat pada usia dewasa.Berapa Lama Luka Sunat Mengering Hingga Sembuh?Sekitar beberapa jam dan beberapa hari setelah operasi, kemungkinan besar kamu akan mengalami pembengkakan dan memar di sekitar penis. Kondisi ini memang umum terjadi. Oleskan kompres es ke selangkangan selama 10 hingga 20 menit setiap dua jam untuk membantu mengurangi pembengkakan.Namun, pastikan untuk tidak menyentuhkan es batu langsung pada kulit. Bungkus es dengan kain guna menghindari terjadinya peradangan. Selanjutnya, beberapa hari pertama pemulihan, pembalut di sekitar penis harus tetap bersih sehingga dapat mengurangi risiko infeksi.Lalu, pada hari kedua atau ketiga, dokter mungkin meminta kamu untuk kembali ke rumah sakit atau klinik untuk mengganti perban dan mengecek kondisi luka pascaoperasi. Meski begitu, kamu juga bisa melakukan penggantian perban secara mandiri di rumah.Pemulihan dari sunat orang dewasa biasanya memakan waktu dua sampai tiga minggu. Beberapa orang membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa beraktivitas dengan normal.Pastikan untuk mendapatkan izin dokter sebelum kamu kembali ke aktivitas fisik normal, termasuk olahraga, setidaknya empat minggu setelah prosedur. Hubungan seksual dan masturbasi mungkin membutuhkan waktu lebih lama, bisa hingga enam minggu.Tidak Menunda SunatJadi, guna mengurangi berbagai risiko tersebut, sebaiknya kamu tidak menunda untuk melakukan sunat. Selain itu, sunat juga terbukti mencegah berbagai kondisi medis yang berbahaya. Seperti infeksi saluran kemih, balanitis, hingga penularan penyakit menular seksual.  Penulis: Dani AgusEditor: Dani AgusSumber: halodoc.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler