Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Bandung – Siapapun pernah mendengar mitos larangan Sunda nikahi jawa. Mitos itu lahir dari sejarah Perang Bubat yang sudah multitafsir.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) pun menyebut narasi itu hanya sebuah mitos belaka. Itu diungkapkan dalam cuitan di Twitternya.

Di akun medsos itu, Ridwan Kamil memposting video yang diawali dengan sebuah narasi berjudul ‘Perang Bubat: Asal-usul Mitos orang sunda tak boleh nikahi orang jawa itu emang valid ya?’.

“GADIS SUNDA DILARANG MENIKAHI LELAKI JAWA? Itu hanya mitos yang diproduksi dalam menafsirkan peristiwa bersejarah Perang Bubat yang sudah jauh lewat dan memiliki multitafsir sejarah,” cuit Ridwan Kamil seperti dilihat MURIANEWS, Kamis (9/12/2021).

Baca juga: Romantis, Ternyata Begini Asal Muasal Pria Asal Amerika Ini Jadian hingga Menikah dengan Wanita Asli Kudus

Ridwan Kamil pun berusaha menghilangkan narasi-narasi perpecahan Jawa-Sunda itu. Ia mengatakan pihaknya dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk terus membangun narasi persatuan dan perdamaian.

“Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X bersepakat dengan kami di Pemprov Jawa Barat untuk terus membangun narasi persatuan dan perdamaian di tengah bisingnya ruang informasi bangsa ini dengan banyaknya tontonan pertengkaran di level elit dan akar rumput,” lanjutnya.

Dia juga mengungkapkan, telah mengunjungi Yogyakarta. Begitu pun sebaliknya, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga datang ke Bandung. Mereka saling berdiskusi dan membicarakan tentang kesenian dan kebudayaan.
Dia juga mengungkapkan, telah mengunjungi Yogyakarta. Begitu pun sebaliknya, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga datang ke Bandung. Mereka saling berdiskusi dan membicarakan tentang kesenian dan kebudayaan.“Banyak yang tidak tahu, bahwa Sri Sultan dulu ngapel pacarannya dengan Ratu Hemas itu di BDG (Bandung). Saat Ratu Hemas ikut orangtuanya dinas di Pindad. Termasuk ngapelnya selalu makan di Ayam Goreng Panaitan,” cuit Ridwan Kamil.Ridwan Kamil juga mengungkapkan di Yogyakarta telah memiliki nama Jalan Pajajaran dan Jalan Siliwangi. Sementara di Bandung hadir Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk.“Banyak yang tidak tahu, jika Alun-alun Utara Jogjakarta salah satu pohon beringin yang bernama Wijayandaru adalah pohon yang bibitnya diambil dari Keraton Pajajaran,” ujarnya.Selain itu, lanjut Ridwan Kamil, Tarian Bedhoyo Sapto ciptaan Sri Sultan HB IX, adalah terjemahan dari Serat Pajajaran yang diekspresikan dalam sendra tari keraton Jogja. Ia pun mengajak masyarakat untuk mengedepankan narasi yang membawa persatuan dan perdamaian.“Mari kedepankan narasi dan posting-posting yang membawa rasa persatuan dan perdamaian,” katanya. Reporter: Zulkifli FahmiEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler